Kamis, 24 Juni 2010

PEMILU RAYA AL-IHSAN

Dari tahun ke tahun pergantian presiden dan kabinetnya telah menjadi tradisi politik di Pondok Pesantren Al-Ihsan. Pemilu Raya Santri (PRS) adalah hal terpenting dalam perubahan tatanan pemerintahan OSPAI. Suara masyarakat Al-Ihsan merupakan komponen pokok untuk menentukan masa depan Al-Ihsan selanjutnya, maka dari itu pada hari Selasa (0112’09) malam, ratusan santri berdesakan di aula Ponpes Al – Ihsan. Mereka terlihat sibuk bergantian keluar masuk aula guna ikut berpartisipasi menyalurkan hak pilih sebagai santri dalam pemilihan presiden “ Pemilu Raya Santri” masa periode 2009 – 2010. ”Moment ini sangat penting tentunya, kita jangan asal milih, soalnya presiden baru akan membawa Al-Ihsan kearah yang lebih baik, so saya akan memilih calon presiden yang saya anggap punya basic pesantren yang kuat”, Ujar salah satu santri Aspi satu.

Proses pemilihan terbilang efektif dilihat dari cukup singkatnya waktu yang terpakai. Kedua calon sama-sama mempunyai potensi yang luar biasa sehingga kalau diunggulkan, dilihat dari seluruh aspek sangat sulit. Berdasarkan hasil perhitungan suara, dari 392 santri yang memilih, Aab Abdul Wahab muncul sebagai presiden terpilih tahun ini dengan unggul 170 suara dibandingkan Elan Jaelani Siddiq yang mendapat 163 suara, selebihnya terdapat 59 suara tidak sah. Panitia PRS mengungkapkan bahwa suara yang tidak sah itu disebabkan banyak santri yang mencontreng di luar kotak atau melebihi kotak, sedangkan di sana (kartu pemilihan suara-red) sudah dicantumkan peraturannya bahwa bila mencontreng di luar garis dianggap tidak sah. Hal tersebut berlawanan dengan apa yang diungkapkan oleh Sandi, gubernur Aspa satu. Ketidaksahan tersebut dikarenakan peraturan tidak jelas sehingga pemilih (santri-red) kurang mengerti bagaimana mencontreng yang benar. Selain itu juga tidak ada peraturan yang tertulis tentang kriteria pecontrengan yang sah dan yang tidak sah. Hal itu disebabkan kurangnya sosialisasi panitia terhadap santri, dan panitia kurang begitu siap dalam proses Pemilu Raya Santri.

Pemilu Raya Santri (PRS) ini disambut dengan antusiasme santri yang begitu tinggi, walaupun mereka rela berdesak-desakan menunggu antrian tapi hal tersebut tak mengurangi semangat mereka untuk ikut andil dalam pemilihan presiden ini. Hanya saja ada satu hal yang dirasa kurang meriah dalam acara pemilihan tersebut. “Pemilihannya kurang seru..! ga rame gitu…! Ga ada cinderamatanya…! Hehe..” tanggapan Dini Nurdiniyati, salah seorang santri yang mengikuti pemilihan. Akan tetapi dari sekian banyak kekurangan, banyak pula hal yang menjadi harapan. “Mudah-mudahan presiden yang terpilih akan menjalankan tugas pemerintahan menjadi lebih baik. Dan mudah-mudahan dia adalah pilihan terbaik sehingga tidak ada rasa ‘kaduhung’ di hati para santri yang memilihnya.” Lanjutnya. Hal tersebut senada dengan apa yang di ungkapkan salah satu santri Aspi dua “Coba lebih bagus dari kemarin jangan lupa pertanggungjawabkan visi dan misi, yah kalo bisa terus melakukan yang terbaik untuk santri, Pak Haji dan Al –Ihsan dan satu lagi, sosialisasi dengan santrinya harus kuat ” tukas mahasiswi jurusan HPI yang bermarkas di kamar Madinah ini.

Selain itu, yang menjadi harapan banyak santri dari pemerintahan OSPAI sekarang adalah mengenai Perfect Education. Mulai dari penjadwalan sampai pada kualitas mengaji para santri. “Ngalogatna..!” tambah seorang santri dengan bahasa dan logat Sunda yang khas. “Jangan sampai para Ustadz memperdulikan dan memperhatikan santri yang bisa membaca kitab saja akan tetapi santri yang lain, apalagi santri yang baru pesantren menjadi tidak mengerti bagaimana cara ‘ngalogat’ itu..” lanjutnya.“Harapan saya terhadap presiden sekarang yaitu agar lebih komunikatif, lebih baik dari presiden kemarin, bisa mengayomi, lebih aktif, dan bersikap adil.” Ujar Leni, gubernur ASPI lima ini. ”Selain itu harus bisa memajukan kinerja OSPAI, dan Presidennya jangan jutek, he...he… tapi kalau dalam keilmuan, sangat luar biasa.” Tambah Rina salah satu santri penduduk ASPI lima.

Lain pendapat santri, lain pula pendapat pimpinan pondok pesantren Al-Ihsan yang kerap dipanggil Pak Haji ini, beliau memaparkan bahwa pemilu kali ini berlangsung secara tertutup, bebas, dan rahasia. Karena begitu rahasia, sampai tidak ada seorangpun yang mengetahui, termasuk istrinya sendiri. Papar bapak dari tiga orang anak ini ketika diwawancara di rumahnya. Beliau juga berharap presiden kali ini lebih baik dari presiden sebelumnya, yaitu selain memahami ajaran Islam juga dapat merealisasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari juga dapat menjembatani antara pimpinan (pondok pesantren-red) dengan santri, sekalipun santri Al-Ihsan didominasi oleh mahasiswa, tetapi predikat santri akan selalu menempel pada dirinya, sehinga sudah sepantasnya tradisi kesantrian selalu dihidupkan dan lebih ditingkatkan lagi. Seperti; pengajian, berjama’ah, kebersihan, keamanan, kesejahteraan.

Sebelum mengakhiri wawancara, ia memberikan amanat “Tingkatkanlah prestasi, tradisi kesehatan dan rubahlah wajah pesantren agar kesan yang dilontarkan sebagian pihak dapat hilang, seperti: pesantren kotor, kumel, berantakan, jorok, budugan, dsb. Sehinga berganti wajah menjadi pesantren idaman yang diinginkan semua orang, beliau juga berharap seluruh santri dapat mengaji, karena bukan santri kalo tidak bisa mengaji.” Ujarnya menutup pembicaraan.

Akhirnya malam itu menjadi awal dari sejarah untuk kabinet yang mengusung tema “Intelektual Progressif” ini, Ketika ditemui Crew El-Qalam, Aab Abdul Wahab yang merupakan presiden terpilih ini memaparkan bahwa tujuan ia mengambil tema “Intelektual Progresif” ini diharapkan seluruh santri memiliki intelektual yang luas tentang keislaman itu sendiri, dengan adanya pemahaman yang luas maka munculnya keinginan untuk mengaplikasikannya bahkan membentuk karakter santri. Selain itu juga, diharapkan kabinet tersebut dapat menggerakan seluruh santri untuk senantiasa mengikuti pengajian yang telah dijadwalkan, dengan harapan semua santri bisa membaca kitab. Kemudian kabinet ini dapat difungsikan sesuai dengan Job-nya masing-masing. Sehingga dengan adanya penempatan tersebut kita bisa melaksanakan yang telah direncanakan. Jangan sampai ada program yang tidak ter-landingkan. Dan saya berharap kepada seluruh elemen-elemen untuk bekerja sama dalam membangun Al-Ihsan ini, sebab hanya dengan kerjasamalah kita bisa membangun sebuah program dalam sebuah organisasi.

“Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh santri yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk meneruskan dan memperjuangkan Al-Ihsan supaya sebih baik. Semoga saya bisa menjaga amanat yang telah dibebankan kepada saya”. Ucap pria asal Tasik ini.

Pada Selasa (18/12) seluruh jajaran pengurus pada kabinet ini resmi dilantik. Malam itu menjadi saksi ketika sumpah jabatan dibacakan oleh Pimpinan Pondok dan diucap ulang oleh para pengurus. Inilah yang menjadi tonggak awal keprofesionalan dan loyalitas seluruh pengurus dalam memberikan yang terbaik untuk pesantren. Menjalankan roda pemerintahan bagaikan seorang driver yang menjalankan mobilnya dengan start, stir, dan setor. Memulai kepengurusan dengan mengemudikan stir sebaik-baiknya agar bisa mendapatkan setoran (hasil) yang maksimal. Itulah yang menjadi harapan seluruh tatanan pondok pesantren Al-Ihsan untuk perbaikan di masa mendatang dengan khidmat dari para pengurus OSPAI pusat sampai OSPAI wilayah bahkan santri seluruhnya. Dari kita untuk kita. Mungkin, itulah kalimat yang cocok sebagai niat dan langkah awal kinerja para pengurus OSPAI.

Tim liput: Nurannisa, Sri Susilawati, Eulis T S, Zakaria, Suci, Neneng N, Rani A.

TIGA KUNCI MENUJU SUKSES

Drs. Dindin Solahudin MA, sosok pria lahir tanggal 5 Agustus 1966 ini merupakan sosok yang tak asing di Pesantren Al-Ihsan, kepiawaiannya dalam berbicara dan menyampaikan materi sering mengundang decak kagum para santri. Bapak dari ketiga orang anak ini punya kunci rahasia menuju sukses lho, mau tau kuncinya? Lets check it out.

Tepat pada hari kamis tanggal 30 april 2009 lalu Tim El-Qalam menemui beliau, beliau memaparkan bagaimana sich caranya kita supaya sukses? Ada tiga hal yang harus kita perhatikan jika kita ingin sukses, pertama, membangun kesadaran, semua orang yang hidup di dunia ini memiliki kontrak waktu 24 jam dalam satu hari, sukses atau tidaknya seseorang tergantung pada ia dapat menggunakan waktunya seefisien mungkin.

Kita ambil santri sebagai contoh, ketika mandi waktu efisien yang diperlukan maksimal adalah 10 menit, akan tetapi untuk mandi para santri bisa menghabiskan waktu 20 sampai 30 menit karena mengantri, jika di sela-sela mengantri santri menggunakannya dengan melakukan hal-hal yang positif seperti membaca buku, maka waktu tidak akan terbuang dengan sia-sia. Akan tetapi jika waktu tersebut digunakan dengan membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat maka berapa menitkah waktu yang telah kita buang dengan sia-sia?

Kedua, terus berupaya dengan sungguh-sungguh membalik diri dari yang tidak terisi pada yang terisi, membiasakan diri melakukan hal-hal yang positif yang bisa memberikan kontribusi pada kehidupan kita, memberikan pemasukan baik berupa iman maupun ilmu yang kelak akan bermanfaat bagi kehidupan kita.

Ketiga, Mengatur diri, sebaik apapun rencana yang kita buat tak akan berjalan sejalin jika tak ada niat untuk mengatur diri untuk melakukan hal yang terbaik dalam hidup” ungkapnya dengan senyuman.
Sosok yang pernah menjalankan program Studi Strata duanya di Australian National University Canberra, Austria ini berpesan kepada para santri“ Bagi para santri yang telah memiliki jadwal pengajian dengan terstruktur, jangan pernah berfikir kalau waktu itu telah benar-benar bisa kita manfaatkan dengan efisien, karena sesungguhnya waktu pengajian yang berdurasi satu jam, setiap materinyai belum tentu bisa kita manfaatkan seutuhnya, kalo kita bisa konsentrasi selama satu jam penuh, seandainya kita melamun, ngantuk dan hal-hal lain yang bisa menghalangi konsentrasi kita, berapakah waktu kita yang terbuang dengan sia-sia”. Ucapnya sambil menutup pembicaraan.
{Susi, Fitri, Ratna}

LDKS..... PENTING GAK SICH????

Tahun ini Al-Ihsan mengadakan kembali LDKS pada 25-27 April 2009 dengan mengusung tema “Pemimpin Berkapasitas Berintegritas” untuk mewujudkan santri yang layak menjadi seorang pemimpin di masa depan.

”Dengan mengikuti LDKS ini para santri diharapkan bisa menambah ilmu dan wawasan untuk bekal sebagai kader muda yang menjadi seorang pemimpin, serta dapat mengaplikasikan ilmu yang telah didapat dalam setiap organisasi dan kepanitiaan yang ada di pondok pesantren Al-Ihsan karena itu merupakan syarat untuk masuk dalam stuktur kepengurusan OSPAI”. Tegas Presiden OSPAI yang akrab disapa Kang Iyus ini.

Acara yang berada di bawah naungan Mentri Pendidikan (Menped) OSPAI Pusat ini diikuti oleh peserta sebanyak 111 (72 peserta perempuan dan 39 peserta laki-laki).“Dengan mengikuti LDKS, para santri diberi pembinaan mengenai dasar-dasar kepemimpinan berdasarkan syari'at Islam, supaya menjadi pemimpin yang dapat meniru kepemimpinan Rasulullah SAW”. ucap Taupik Syamsudin selaku ketua OC LDKS.

Kegiatan LDKS ini mendapat sambutan hangat para santri khususnya santri baru, tak ayal para panitia pun begitu semangat mempersiapkan segalanya dengan mengorbankan waktu istirahat mereka. hal ini membuktikan bahwa LDKS merupakan sebuah kegiatan yang dianggap penting oleh para peserta dan pihak OSPAI sebagai penyelenggara. “ LDKS penting banget, soalnya LDKS mampu melatih mental kita “. ujar salah satu mahasiswi BSI (Bahasa dan Sastra Inggris).

Hal yang sama juga diungkapkan oleh salah satu mahasiswi MD ( Manajemen Dakwah ) “ LDKS itu penting, untuk membentuk karakter para pemimpin yang tangguh dimasa depan”. Ujarnya penuh semangat. Sejalan dengan hal tersebut, para peserta pun mempunyai pendapat yang sama tentang pentingnya acara ini.“Menurut saya sih penting, coz dapat pembekalan ilmu dan sertifikat LDKS sebagai bukti formal dan untuk bukti nanti ketika terjun ke masyarakat”. Ujar Husnul mahasiswi Matematika Sains ini.

Adapun acara berjalan lancar dari awal hingga akhir. Di akhir acara diadakan forum curhat yang berisi saran dan kritik dari peserta. Di antaranya, lagi-lagi keluhan mengenai “Jam Karet”. Di tambah lagi dengan masalah kepanitiaan yang katanya (red-peserta) kurang kompak. Hal senada diungkapkan oleh Syifa, salah satu peserta LDKS “”Kalo menurut saya sih bikin acara yang baru, mungkin yang berkesan bagi saya, waktu panitia marah-marah,coz saya jadi sasaran” Ucapnya sambil tertawa.

Akan tetapi menurut ketua OC sendiri, kepanitiaan LDKS kali ini cukup kompak itupun dengan penekanan bahwa setiap panitia diharapkan mampu menjalankan kewajibannya masing-masing juga dapat saling bantu membantu panitia lainnya. ”Jangan sampai mangandalkan yang lainnya karena kita mempunyai tanggung jawab”. Ujar pemuda tampan berparawakan tinggi itu.

Banyak sekali manfaat yang dapat diambil dari LDKS ini walaupun para peserta terpaksa harus mengikuti aturan-aturan yang sejalan dengan alur yang berlaku. Seperti halnya para peserta harus bangun tengah malam untuk melaksanakan tahajud bersama. Keren kan??!!! Padahal mungkin biasanya para santri bangunnya menjelang subuh. Ini benar-benar harus dilakukan dengan penuh kesabaran dan kesadaran. Jika tidak, gak akan mungkin para peserta bisa menjalankannya dengan baik. Betul?!. Dan semoga dengan LDKS ini para peserta serta panitia bisa melaksanakan kedisiplinan dalam kehidupannya sehari-hari, begitupun dengan para santri yang lain.

Berbeda halnya dengan pandangan presiden OSPAI yang mengungkapkan bahwa memang LDKS kali ini cukup sukses, namun perlu diperbaiki dalam isi acara,”jangan monoton! dari tahun ke tahun hanya itu-itu saja acaranya” ujar pria asal Ciamis ini sambil tidur santai.

{Sugi,Neneng, Risna, Rara,Desti}

Status Vs Aksi

Akhlak merupakan perilaku yang sudah tertanam dalam diri manusia yang mencerminkan kepribadian seseorang, setiap orang dituntut mempunyai akhlak yang baik. Terlebih lagi sebagai santri, sudah sepatutnya akhlak kita harus mengacu pada syariat islam yang berpedoman pada Al Quran dan Sunah.

Menurut survey yang dilakukan oleh anggota El-Qalam, dalam tiap perilaku santri selalu saja ada kesalahan di mata masyarakat. Ketika Crew El-Qalam mewawancarai masyarakat, banyak hal yang mereka kemukakan soal santri Al-Ihsan itu sendiri “ Santri Al-ihsan itu suka pacaran, ya walaupun gak semuanya gitu, ditambah lagi kelakuannya gak sopan ya gak pantes aja orang yang tau tatakrama tapi kelakuannya kayak gitu”ujarnya. Dilihat dari situasi tersebut mengundang berbagai macam pertanyaan, diantaranya bagaimanakah santri yang baik (ideal) itu?

Berdasarkan hasil Survei, para reporter El-Qalam akhirnya menemukan sebuah jawaban mengenai pertanyaan di atas. Santri yang ideal menurut penuturan salah seorang santri yang berasal dari wilayah Balong Boy memaparkan “Kalo menurut saya santri yang baik itu mempunyai kesadaran dan taat pada peraturan, soalnya susah kalo santri gak sadar-sadar mah walau peraturan seketat apapun, yang menjadi masalah bagaimana cara menyadarkan masalah santri tersebut, mungkin langkah awal kita sekarang mah mulai aja dari diri kita sendiri ya…. terus kita ajak orang lain” ungkapnya serius.

Di sisi lain, ketika Crew El-Qalam menemui Pimpinan Ponpes Al-Ihsan berkata:”Bapak ingin mempunyai santri yang shaleh ,dari berbagai aspek, yaitu shaleh akalnya, hati, prilaku, atau biasa diistilahkan santri yang mempunyai kecerdasan, baik kecerdasan spiritual, emosional, dan intelektual. Namun, sejauh ini saya kira sekitar 80 – 90 % santri sudah bisa dibanggakan atau sedikitnya sudah mempunyai criteria tersebut “.ujarnya sambil tersenyum.

Dari semua pemaparan terlebih pemaparan yang diungkapkan oleh masyarakat, sebaik apapun komunitas yang ada di wilayah santri pasti ada sebagian yang memiliki sifat di luar perilaku seorang santri. Untuk mengantisipasi hal tersebut pimpinan pesantren mengemukakan pendapatnya “ketika ada santri yang melanggar peraturan pesantren maka langkah yang pertama yang akan dilakukan adalah diingatkan atau diberi teguran masal, jika ada santri yang tidak mengaji maka santri tersebut dicatat namanya kemudian diberi nasihat, kalau dengan nasihat masih saja melanggar maka di beri pilihan antara melanjutkan tinggal di pesantren atau pindah tempat dan ketika ada moment besar maka akan diberikan pengarahan agar tidak menyimpang dari aturan pesantren”. Ujar beliau dengan wajah penuh harap.

Timbul lagi sebuah pertanyaan, sejauh manakah peranan santri bagi masyarakat? Melihat banyaknya opini yang beredar di kalangan masyarakat luas bahwa santri masa kini tidak seperti dahulu, baik dalam sisi akhlak maupun semangat menuntut ilmu terutama peranan dalam masyarakat. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh salah seorang masyarakat “Santri zaman sekarang memang aneh, dari pagi sampai pagi lagi mereka menuntut ilmu tapi tidak ada penyaluran kepada masyarakat disekitarnya”. katanya dengan wajah agak kesal.

Sementara, di sisi lain seorang santri sekaligus mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung memaparkan bahwa dia siap terjun langsung ke masyarakat. Dia juga memaparkan ketika kita telah memiliki ilmu, maka amalkanlah ilmu itu. Jika tidak, ilmu itu akan pakum dan seolah tidak memiliki daya guna. Seorang santri lain pun menambahkan bahwa dia akan siap bila harus terjun ke masyarakat, meski pada awalnya dia merasa ragu. Akan tetapi, dengan kesungguhan mencari ilmu dalam mengaji, maka kita pun bisa terjun ke masyarakat tanpa embel-embel nama lain sebagai santri-santrian.

Pak Haji yang merupakan sapaan akrab dari Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ihsan, Tantan Taqiyudin Lc memaparkan hal yang bertolak dengan masyarakat “sampai saat ini santri dengan masyarakat sudah dapat dikatakan berbaur dalam artian sudah ada peran santri di masyarakat, seperti mengadakan baksos, dan bahkan ada juga masyarakat yang mengikuti pengajian subuh santri. Namun, pak haji menginginkan baksos ke masyarakat seperti bersih-bersih jalan, bisa sering atau bahkan rutin dilakukan supaya antara santri dan masyarakan lebih akrab lagi” ucapnya.

Dari semua wawancara yang dilakukan di atas, ada sedikit ganjalan mengenai konstribusi santri pada masyarakat, akan tetapi apa yang membuat penyaluran pengetahuan santri kepada masyarakat bisa terhambat??? Hal ini merupakan tanda tanya besar yang sebenarnya bisa dijawab oleh OSPAI sebagai suatu media yang bisa menyalurkan aspirasi santri, karena para santri pun seolah telah siap untuk membuktikan segala kemampuan yang dimiliki mereka meskipun semuanya sangat terbatas mulai dari mengisi pengajian di majlis-majlis ta'lim khususnya di Cibiru Hili.(Susi, Rara)